ASSALAMU"ALAIKUM WARAHMATULLAH WABARAKATUH

SELAMAT DATANG DI SANG BUMI RUWAI JURAI

Selasa, 26 Februari 2008

APA ITU HIPMALA?
(What Is Lampung Student Associationin)
Oleh : Sairul Sidiq, SH.*
A. SELAYANG PANDANG
Provinsi Lampung merupakan provinsi paling Selatan dari pulau Sumatera. Dalam catatan perjalanan cina purbakala, menyebutkan adanya suatu tempat di Sumatera yang mereka sebut Lam-Phung yang berarti ”Bumi dari Angin Selatan dalam literatur asing yaitu The Land Of Sourtherly Wind”. Penduduk Lampung terdiri dari berbagai macam suku bangsa ini merupakan bukti bahwa Lampung merupakan perwujudan dari Bhineka Tunggal Ika, ini juga merupakan bukti bahwa penduduk Lampung Pribumi memiliki keterbukaan dalam pergaulan hidup yang tercermin dalam filosofis masyarakat lampung yaitu Nemui Nyimah yang berarti suatu keharusan berlaku saling hormat sesama anggota masyarakat dan menghormati tamu (pendatang).
Prinsip hidup tersebut di atas bukan hanya milik para punyimbang atau sebatin saja melainkan telah terpatri, mendarah dan mendaging dalam kehidupan masyarakat secara umum tidak terkecuali masyarakat pendatang baik yang tua maupun yang muda pepadun ataupun pesisir. Sebagai kelompok pemuda yang dihimpun dalam suatu wadah, sadar dan faham akan peran atas dirinya baik sebagai duta orang tua untuk belajar maupun putra daerah untuk mempromosikan budayanya maka kegiatan dan aktifitas yang dilakukanpun beranekaragam.
Berikut ini akan di kemukakan tentang apa itu HIPMALA? dalam acara Musyawah Besar Himpunan Pelajar Mahasiswa Lampung Yogyakarta 2008.

B. APA ITU HIPMALA?
1. Sejarah Singkat HIPMALA
Untuk menjawab pertanyaan sederhana di atas bukan merupakan pekerjaan yang gampang tetapi membutuhkan waktu dan penjelasan yang cukup panjang. Mau tidak mau kita harus memulainya dengan membuka catatan sejarah yang dimulai dari tahun 1952. Jelas bahwa tahun ini Lampung sendiri pun secara administrasi pemerintahan belum menjadi provinsi tetapi masih merupakan bagian dari Karsidenan Sriwijaya (Provinsi Sumatera Selatan), pada tahun 1964 barulah lampung di angkat statusnya menjadi provinsi, berdasarkan Undang-undang No.14 Tahun 1964.
Namun demikian sejumlah mahasiswa dan mahasiswi yang berasala dari lampung berkisar pada tahun 1952 menjalin sebuah kominikasi, sebagai perwujudan dari rasa senasib dan seperjuangan dan berasal dari daerah yang sama yang diwadahai dalam ikatan organisasi yang bernama “Keluarga Pelajar Lampung”. Dalam perjalanannya seirma dengan dinamika telah terjadi beberapa kali pergantian kepengurusan semenjak tahun 1952-1988. Beberapa para mantan Ketua Umum Keluarga Pelajar Lampung yang tercatat dan teringat jelas pernah menjabat diantaranya; Komisaris Besar Polisi Drs. Pun Edwar Syah Pernong, SH, MH, Abang Mu’as Munjiri, Abang Sukardiansyah. Tahun 1988-1989; Bang As At Bastari. Tahun 1989-2004 Abang Jasril Anwar, SE.
Kegagalan dalam proses regenerasi jangan sampai terulang kembali, sejarah mencatat kegagalan regenerasi pada tahun 1992 menyebabkan HIPMALA mati suri dan hampir mati total. Bersyukurlah pada era 2000-an hingga 2003 para aktifis dari Lampung yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di berbagai kampus baik sebagai Presiden Mahasiswa atau pengurus lainnya memprakarsai untuk membangunkan HIPMALA yang mati suri sehingga hidup, sembuh dan dapat bergerak lagi pada tahun 2004 yang diketuai Sdr. Endy Fatoroni, ST. Bak menghirup angin segar kegiatan pun mulai menyibukan pengurus bahkan pada pengukuhan dihadiri langsung oleh Gubernur Lampung Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Drs. Sjahroedin ZP, SH. Namun na’as pengalaman pahit hampir terulang kembali karena yang bersangkutan hanya menjalankan amanah yang diembankan kepadanya selama kurang lebih 6 bulan. Kembali HIPMALA mengalami kekosongan kepemimpinan yang akhirnya diangkat Pjs. Sdr. Imam Subkhi, SH. Sejarah berlanjut sehingga sampai pada awal tahun 2005 mantan “Presiden Mahasiswa UAD” yang dalam hitungan minggu akan meraih garis finish studinya, mau tidak mau harus menunda prosesi yang sangat diagungkan oleh semua mahasiswa yaitu Wisuda sampai dengan 1,5 tahun kemudian karena diamanahi sebagai puncak pimpinan organisasi yang sedang sakit ini sampai pada terpilihnya Sdr. Yanto pada periode berikutnya.
Berdasarkan pada cerita singkat di atas sekaligus sebagai orang yang pernah merasakan pahit, ketir, manis dan indahnya perjuangan sebagai seorang ketua dalam kesempatan ini saya menyampaikan; Pertama, mengajak kepada saudara-saudaraku seperjuangan untuk sama-sama kembali merenungtkan dan menghayati makna sebuah kalimat yang kini menjadi slogan kita “Demimu Lampungku Padamu Bhaktiku” kalimat inilah yang mengalahkan egoisme dan apatisme saya terhadap HIPMALA sehingga berkenan menjadi ketua periode 2005-2006 hasil dari Musyawarah Besar 2005. Kedua, Dalam Musyawarah Besar pada akhir satu periode marilah kita menggunakan metode evaluasi kritik otokritik atau kritik untuk membangun dengan melihat pada apa yang sudah saya perbuat barulah memberikan penilaian dari apa yang telah dia perbuat dengan mengajukan sebuah solusi dan saran. Ketiga, Himpunan Pelajar Mahasiswa Lampung telah banyak melahirkan pemimpin-pemimpin yang besar, berhasil dan sukses tetapi saat ini organisasi yang besar ini sedang membutuhkan orang-orang yang berjiwa besar, peduli dan memiliki visi dan misi untuk membangun perahu ini agar menjadi lebih besar dan semakin harum namanya.

2. Pengertian Organisasi HIPMALA
Himpunan Pelajar Mahasiswa Lampung adalah Organisasi yang menghimpun seluruh pelajar dan mahasiswa asal lampung yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta dalam satu wadah yang diikat dengan tali persaudaraan yang berasaskan kekeluargaan dan kebersamaan dengan rasa senasib seperjuangan berasal dari kampung halaman yang sama yaitu Lampung. Dengan penjelasan lebih lanjut sebagai berikut;
- Dikatakan organisasi oleh karena, Pengertian dari organisasi itu sendiri adalah koordinasi dari semua kegiatan oleh sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan yang sama yang harmonis (system kerjasama) melalui pembagian pekerjaan dan manfaat melalui sistem kewenangan dan kerjasama. Dalam istilah lain organisasi juga dikatakan sebagai bentuk setiap perserikatan manusia mencapai suatu tujuan bersama, (James D Mooney). Menurut Hebert A Simon organisasi adalah struktur kewenangan dan hubungan sekelompok orang dalam system administrasti.
- Menghimpun seluruh Pelajar dan Mahasiswa asal Lampung di DIY oleh karena yang dihimpun adalah secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan suku, agama, kaya atau miskin yang terpenting adalah memiliki kepedulian dan memiliki rasa memiliki akan Lampung bumi “Sang Bumi Ruwa Jurai”.
- Berasaskan kekeluargaan oleh karena untuk menetralisir dari adanya kepentingan-kepentingan perseorangan atau kelompok organisasi tertentu berkaitan dengan kepentingan politik.
3. Kegiatan HIPMALA
Secara umum kegiatan Himpunan Pelajar Mahasiswa Lampung Yogyakarta dapat dikelompokkan sebagai berikut;
o Bidang Budaya dan Pariwisata; ini merupakan tugas utama sebagai duta daerah selalu mempromosikan potensi pariwisata dan kebudayaan daerah Lampung dalam setiap kesempatan.
o Bidang Agama; aktif dan rutin dalam penyelenggaraan PHBI.
o Bidang Sosial; sensitive terhadap kegiatan-kegiatan yang bersifat social diantaranya; mengirim relawan pada tsunami di Aceh, membentuk team relawan gampa bumi DIY, Bakti sosial.
o Minat dan Bakat; juga merupakan media untuk mengangkat dan mengharumkan nama Lampung baik melalui sepak bola, bola volly dan kesenian.
o Pendidikan; aktif dalam berbagai seminar, dialog dan diskusi baik sebagai peserta maupun sebagai penyaji.

4. Tujuan Pembentukan HIPMALA
Pada awalnya perkumpulan ini hanya ditujukan sebagai media berkumpul, interakasi dan komunikasi serta penawar rindu akan kampung halaman khususnya keluarga dan kedua orang tua. Karena perkembangannya maka tujuan HIPMALA dapat dirumuskan yaitu;
o Peningkatan Kemampuan Intelektualitas; biasanya dilaksanakan dengan mengadakan kegiatan diskusi kelompok yang sederhana dengan membahas permasalahan-permasalahan yang actual.
o Peningkatan Kemampuan Kepemimpinan; karena HIPMALA merupakan media untuk melahirkan pemimpin-pemimpin baru sebagai proses pengkaderan melalui berbagai kegiatan dalam bentuk kepanitiaan.
o Peningkatan Kemampuan Manajemen; Manajemen adalah kegiatan pemimpin untuk menggerakkan orang dalam proses perancangan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan atas kegiatan-kegiatan anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya guna mencapai tujuan yang telah direncanakan dengan efektif dan efisien.
o Peningkatan Sensitif Sosial oleh karena diharapkan semua anggota HIPMALA memiliki jiwa social yang tinggi terhadap permasalahan-permasalahan social yang ada dalam masyarakat.

5. Sumber Pendanaan HIPMALA
Pendanaan HIPMALA yang diperoleh secara permanent (anggaran tetap) tidak ada melainakan diperoleh melalui usulan dalam bentuk proposal yang di ajukan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Lampung baik bersifat semesteran, tahuanan maupun setiap unit kegiatan. Sumber pendanaan lainnya juga diperoleh dari berbagai donator dan Alumni HIPMALA yang sifatnya sukarela dan tidak mengikat.

C. PENGEMBANGAN HIPMALA KEDEPAN
Organisasi di manapaun dalam bentuk apapun memiliki satu kesamaan yaitu ”Sebuah Tradisi yaitu Re Organisasi”, tidak terkecuali Himpunan Pelajar Mahasiswa Lampung Yogyakarta yang merupakan organisasi kedaerahan juga memiliki tradisi itu. Tradisi ini ditujukan sebagai kegiatan pengkaderan dan regenerasi khususnya untuk melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang memiliki kecerdasan intelektual dan pemikiran-pemikiran brilian sebagai nahkoda dari organisasi yang tercinta ini.
Untuk mengembangkan HIPMALA dimasa mendatang perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
Merekontruksi kembali atau memperbaharui Visi dan Misi HIPMALA. Visi adalah kategori niat menyeluruh, berfikiran tentang masa depan dan merupakan aspirasi masa datang tanpa menyebut cara pencapaiannya. (Miller dan Des 1996). Dengan kata lain visi adalah gambaran mental tentang kondisi masa depan yang mungkin dan diharapkan terjadi pada sebuah organisasi. Sifat visi adalah memaksa tetapi menggairahkan, memiliki daya tarik dan memerlukan penjelasan lebih lanjut. Sedangkan Misi adalah tujuan yang realitas, idaman dan dapat membangkitkan semangat juang. Seorang pemimpin bukanlah menjadi ahli sendirian (one man show) dalam menciptakan arah tujuan organisasi, tetapi dia harus mampu menularkan semangat dan kemampuannya sehingga bukan saja pemimpin yang visioner tetapi organisasinya visoner juga. (Visi tanpa tindakan adalah mimpi, Tindakan tanpa visi hanyalah buang waktu tetapi visi dengan tindakan dapat merubah dunia).
Memiliki ciri khas dan sistem yang tersendiri. Sistem adalah kesatuan sejumlah sarana yang berkaitan satu dengan yang lainnya dan secara bersama-sama mengolah rangsang (masukan, input) yang berasal dari lingkungan untuk menghasilkan suatu reaksi (output). Berdasarkan definisi tersebut dapat kita gambarkan dalam satu kesatuan sistem terdiri dari;
o Perencanaan; pemilikan dan penentuan tujuan organisasi dan penyusunan strategi dan kebijaksanaan.
o Pengorganisasian; penentuan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan, menyusun organisasi kelompok, penugasan wewenang dan tanggung jawab serta koordinasi.
o Penyusunan personalia; melalui seleksi, latihan, pengambangan, penerapan orientasi. Harus mampu menciptakan formulasi kepengurusan baru yang akomodatif, solid dan seimbang.
o Pengarahan; dapat dilakukan dengan memberi motivasi, komunikasi merupakan keterampilan dari gaya kepemimpinan yang bermuara pada Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso.
o Pengawasan; penetapan standar, pengukuran pelaksanaan dan pengambilan tindakan korektive (evaluatif).
Perlunya peningkatan pemahaman tentang kepemimpinan oleh anggota dan pengurus HIPMALA. Istilah kepemimpinan berasal dari kata dasar ”pimpin” yang artinya bimbing atau tuntun. Dari kata ”pimpin” lahirlah kata kerja ”memimpin” yang artinya membimbing atau menuntun dan kata benda artinya ”pemimpin” yaitu orang yang berfungsi memimpin, atau orang yang membimbing atau menuntun. Kepemimpinan adalah sesuatu yang melekat pada diri si pemimpin dan oleh karenanya kepemimpinan itu dikaitkan dengan pembawaan kepribadian (personality), kemampuan (ability) dan kesanggupan (capability) yang mana kesemuanya itu mengarah pada ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu. Ciri pemimpin yang ideal harus memiliki ciri dan sifat sebagai berikut; a) Kredibilitas (memiliki kemampuan yang handal), b) Aceptabilitas (dapat diterima dilingkungan), c) Integritas (kepribadian dan moralitas yang utuh), d) Visi (pandangan jauh kedepan), e) Konsep (program dan arah kebijakan yang jelas); f) Mampu Berkomunikasi; g) Terbuka, Proaktif, Kaya Inisiatif, Memberi Insentif, Teguh dalam Prisnip, Menerima Saran dan Berorientasi pada tujuan; h) Mengawasi.


D. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan dalam ”Musyawarah Besar Himpunan Pelajar Mahasiswa Lampung Yogyakarta 2008” semoga melalui MUBES ini dapat membawa angin segar bagi organisasi yang tercinta ini. Akhirnya andaikata dalam kami menyajikan makalah ini kurang berkenan dihati para peserta sekalian khususnya Panitia Penyelenggara kami haturkan Permohonan Maaf yang sebesar-sebesarnya.
ยช Pemakalah adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada Jurusan Hukum Pidana makalah disampaikan pada MUBES HIPMALA Yogyakarta 2008.

ADOK ANTARA KELUHURAN DAN PERFORMANSI

Provinsi lampung merupakan salah satu buah dari kebudayaan yang ada di nusantara, yang kalau kita cermati tidak hanya memiliki hewan besar seperti gajah saja tetapi juga memiliki budaya luhur dan besar bagi masyarakatnya yang juga patut untuk kita hargai.
Dalam kehidupan adat budayanya ada beberapa hal yang hingga kini masih dipengaruhi oleh adanya kerajaan-kerajaan tua, yakni sistem adat dan dalam hal panggilan-panggilan untuk seseorang(petutokhan). Sebutan atau panggilan yang sanggat di segani pada masyarakat lampung adalah suntan/sultan(raja), sama seperti daerah indonesia pada umumnya. Didalam kamus bahasa indonesia, sultan sama artinya dengan raja, raja berarti kepala negara/pemimpin disebuah kerajaan dan dalam arti tersebut seorang sultan sangatlah disegani dan dihormati. Oleh karena itu ada beberapa pertimbangan yang mengatur hingga dapat menaikan seseorang menuju gelar/adok sultan. Pada masyarakat lampung kata sultan berubah menjadi suntan/suttan, ini disebabkan logat dalam bahasa lampung hurup L, N, dan M cara pembacaannya luluh ( kantor = kattor, lampung = lappung).
Namun pada perkembangannya ada sesuatu yang menarik untuk di perhatikan yang terjadi pada sebagian masyarakat lampung, yakni gelar (adok) suntan banyak sekali diminati dan banyak menempel pada nama –nama seseorang, bahkan gelar/adok suntan, dapat dimiliki oleh siapa saja yang mau dan memiliki finansial yang cukup.
Pertimbangan Pengankatan Adok Suntan/Raja
Pada masayarakat yang sangat menjunjung gelaran(adok)bada beberapa pertimbangan untuk dapat mencapai adok suntan/sultan (raja). Yakni dengan permufakatan sidang adat dengan memperhatikan kesetiaan seseorang kepada garis dan aturan adat. Jika seseorang dinilai telah memenuhi syarat dan mematuhi garis, ketentuan dan aturan adat, untuk seterusnya keturunannya dapat dipertimbangkan untuk dinaikkan setingkat pangkat adatnya. Namun jika yang terjadi sebaliknya kemungkinan untuk keturunannya pangkat adat itu tetap atau bahkan diturunkan. Pertimbangan yang kedua untuk menaikkan pangkat adat seseorang adalah dengan melihat jumlah bawahan dari seseorang yang akan dinaikkan pangkat adatnya. Seseorang yang yang menyandang pangkat adat atau Gelaran yang disebut ADOK harus memiliki bawahan yang berbanding dengan kedudukan pangkat adatnya. Suntan membawahi beberapa Raja juku, bahwa seorang Raja membawahi seorang Batin, dan seorang Batin membawahi seorang Minak, seorang Minak membawahi dua orang Mas, setiap Mas membawahi dua orang Kemas dan setiap Kemas membawahi lima Lamban atau lima rumah/keluarga.
Gelaran atau Adok -DALOM, SUNTAN, RAJA, RATU, panggilan seperti PUN dan SAIBATIN serta nama LAMBAN GEDUNG (rumah adat/kraton) hanya diperuntukkan bagi Saibatin Raja dan keluarganya dan dilarang dipakai oleh orang lain. Dalam garis dan peraturan adat tidak terdapat kemungkinan untuk membeli Pangkat Adat, terutama di dataran Sekala Brak sebagai warisan resmi dari kerajaan Paksi Pak Sekala Brak.
Munculnya Suntan/Penyimbang Kecil
Setelah penyebarannya keseluruh penjuru lampung yang mengikuti aliran aliran way (sungai) yang ada dilampung, Warga Negeri yang memiliki hubungan genealogis dari salah satu Paksi Pak Sekala Brak dan beberapa kelompok pendatang dari daerah lain yang menempati wilayah yang baru, dan di wilayah baru ini tentu jauh dari pengaruh Saibatin serta Garis, Peraturan, dan Ketentuan adat yang berlaku dan mengikat. Ditempat yang baru ini tentu dengan sendirinya harus ada Pemimpin dan Panutan yang ditaati oleh kelompok, ditempat baru itu untuk membentuk suatu komunitas baru dan memilih seseorang sebagai Pimpinan Komunitas, sewajarnya dipastikan bahwa seseorang tersebut adalah yang memiliki kekayaan dan kekuatan untuk dapat melindungi komunitasnya. Namun dalam perkembangannya kini rupanya diwilayah baru ini tidak ada ketentuan tentang Pangkat Adat seperti pada daerah asalnya, dan dengan melihat kenyataan yang ada bahwa Gelaran Gelaran atau Adok yang Sakral dan dipegang teguh di Paksi Pak Sekala Brak ternyata bahkan menjadi suatu gelaran umum didaerah ini.
Secara psikologis pengamat belanda menarik beberapa kesimpulan tentang masyarakat lampung pada umumnya, yang mengatakan:
... bahwa orang lampung hidupnya sederhana, tetapi karena kemegahannya suka memakai nama-nama besar, wanita-wanita memakai perhiasan berlebihan, menghamburkan biaya pesta adat, enggan menjadi kuli di kampung sendiri, mudah percaya kepada orang lain, terlalu memanjakan anak-anak, para pemuda membuang waktu berpacaran (Hilman Hadikusuma, Masyarakat dan Adat Budaya Lampung, 1989:16).
Kesan pengamat Belanda itu disamping belum tentu benar semuanya, dan kalupun ada benarnya, tentu kini telah banyak berubah.

Yogyakarta 29 November 2007
*Novan Adi Putra Saliwa
* Rujukan: Kitab – kitab tambo nagari skala brak.
* kritik saran diterima bila dalam bentuk tulisan.
















“SANG BUMI KHUWA JUKHAI”


“SANG BUMI KHUWA JUKHAI”

Lampung sai…..!
sang bumi khua jukhai
Demikian sepenggal kutipan lagu yang cukup terkenal pada sebahagian masyarakat lampung, namun sayangnya tak banyak yang paham atau mengerti tentang arti dan makna filosofis dari sepenggal kalimat diatas. Dalam tulisan ini pembahasan bukan pada persoalan yang tibul diatas namun fokus kepada fenomena yang timbul di bumi lampung tercinta. Ketika saya pulang pada waktu liburan bulan agustus 2007 kemarin, terdapat papan iklan berukuran besar yang terpasang dipinggir jalan raya yang didalamnya bertuliskan “ Sai bumi Ruwa Jurai”. Dan tidak hanya itu saya pun pernah membaca disebuah buku yang berjudul “Kiyai Udin” buku yang menceritakan biografi sang gubernur lampung yang didalam nya banyak sekali kata- kata “sai bumi ruwa Jurai” serta masih banyak lagi pengalaman lainya khusus berkenaan dengan kata-kata diatas. Sebenarnya jika kita perhatikan dari kata “Sai Bumi Ruwa Jurai” memang tak memiliki unsur yang perlu untuk diperdebatkan, toh arti dan maksud dari kata tersebut tidak jauh berbeda dengan kata awalnya” sang bumi ruwa jurai” yang saya anggap kata ini adalah ungkapan warisan dari tokoh lampung terdahulu. Namun yang menjadi perhatian saya adalah ketika kita tidak mengetahu alasan apa dan mengapa kata “ Sang” berubah/berkembang menjadi “Sai”. Sepele memang persoalannya, namun bagi saya ini merupakan hal yang substansial dan perlu dipecahkan agar tidak terjadi kerancuan dalam makainya. Seringnya kita sebagai masyarakat awam hanya menganggap hal- hal seperti ini adalah sesuatu yang remeh padahal kita tidak tahu bagaimana perjuangan para tokoh pendiri lampung terdahulu untuk menciptakan dan mewujudkan kalimat bermakna besar ini”Sang Bumi Ruwa Jurai”
Sedikit telaah teoritis mengenai kata”Sang”, bahwa didalam kamus bahasa lampung hasil susunan Drs.H.Fauzi Fattah, MM.(penterjemah bahasa belalau dan pesisir), M.Daud HS.(pubian dan sungkai), H.Ramli Usman (abung), dan Drs.Abu Thalib Khalik, M.Hum.(tulang bawang), terbitan Gunung Pesagi tahun 2002, disebutkan bahwa kata se- terjemah dalam bahasa lampung adalah sanga/sango (sang) berturut-turut menurut dialek A/O. Pengambilan kata “sang” untuk kalimat “sang bumi ruwa jurai” bertujuan agar kedua dialek A/O dapat sama-sama menggunakannya. Kata se- sendiri memiliki tafsiran atau tujuan untuk menyatukan beberapa komponen menjadi satu dalam satu sifat, contohnya kata sebangsa, sehati, sejalur dan yang lainya, kata-kata tersebut semuanya berpengertian bahwa ada beberapa komponen didalamnya yang ingin di satukan dalam satu sifat.
Dengan kata lain bahwa arti sang = se, bumi=bumi, ruwa=dua, jurai=cabang, maknanya adalah didalam satu bumi (lampung) terdapat dua cabang yakni pesisir dan pepadun, dalam tafsiran lain disebut dengan penduduk pendatang dan asli. Kedua komponen besar ini ingin disatukan dalam kalimat “sang bumi ruwa jurai”.
Untuk itu setidaknya ada dua pesan yang dapat kita petik daripenjelasan makna kata “sang bumi ruwa jurai” diatas yaitu, pertama, kalimat itu adalah kalimat yang bertujuan untuk menyatukan dua jurai besar dilampung, kedua, kalimat tersebut adalah kalimat warisan dari para tokoh terdahulu dilampung yang menjadi kalimat dalam pita pada lambang provinsi lampung .
Nah! sekarang yang tidak kita ketahui adalah mengapa harus muncul kalimat baru”Sai bumi ruwa jurai”? padahal kalimat terdahulu memiliki makna yang begitu luhur dan mendalam. Terlepas dari banyaknya perbedaan bahasa dilampung yang merupakan tanda bahwa kita kaya akan budaya, setidaknya dalam melakukan sesuatu, apa lagi yang berhubungan dengan adat atau budaya, kita haruslah tahu bahkan memahami makna luhur yang terkandung didalamnya.



*Novan Adi Putra Saliwa

Senin, 25 Februari 2008

Ketua Baru HIMPALA Yogyakarta periode 2008-2009

Pada tanggal 23-24 february 2008 di Wisma Sejahtera 3 Kaliurang dilaksanakan Musyawarah Besar Himpunan Pelajar Mahasiswa Lampung (HIPMALA) Yogyakarta.
pada mubes kali ini mengusung tema “Dengan Semangat Kekeluargaan Kita Bangun Lampung” dengan dihadiri sejumlah mahasiswa dari lampung yang ada di jogja sekitar 200 orang. Mulai dari pembukaan hingga acara pemilihan ketua Hipmala yang baru pun dapat berjalan dengan lancar tanpa ada sedikitpun kekisruhan yang mungkin ditakutkan berbagai pihak. pada mubes kali ini Hipmala Yogyakarta pun turut dihadiri oleh teman-teman dari IKPM-IKPM yang ada di Yogyakarta maupun IKPM Lampung yang ada di Ikamala Semarang, Putra Saburai Semarang dan Teman-teman dari Ikamala Solo.
Pada Mubes ini terdapat 2 calon ketua yang diajukan oleh IKPM-IKPM komisariat yaitu saudara Wijaya dari KBMP-Way Kanan serta saudara A Jaka Mirdinata dari Garis Alam dan akhirnya sebelum pemungutan suara dimulai dengan pemaparan Visi Misi kedua calon ketua Hipmala. kedua calon memiliki kharisma masing untuk menarik simpati para anggota penuh yang memiliki hak suara, namun pada akhir pemilihan terlihat jumlah suara yang mereka peroleh dengan perolehan suara 84 suara untuk saudara jaka dan 28 suara untuk saudara jaya maka terpilihlah saudara A Jaka Mirdinata sebagai ketua baru Hipmala untuk masa jabatan 2008-2009. Mahasiswa Fakultus Hukum UGM ini memiliki talenta yang tinggi untuk membangun HIPMALA Kedepan. Jaka yang mewakili GARIS ALAM atau Keluarga Pelajar Mahasiswa Bandar Lmapung ini merupakan salah satu aktivis HMI Cab. Bulak sumur. Semoga dapat menjalankan visi dan misi HIPMALA dengan Baik
semua berharap dalam kepemimpinan hipmala yang baru, hipmala dapat berjalan dengan baik dan menampakkan keeksistensian Hipmala dalam membantu pembangunan daerah Lampung yang tercinta. mari kita semua sebagai putra-putri yang lahir dan besar di Propinsi Lampung dapat membantu mensukseskan cita-cita hipmala sebagai organisasi daerah yang mencerminkan keintelektuan para anggotanya serta turut memberikan sumbangsih dalam kemajuan Propinsi Lampung tercinta.

Kamis, 21 Februari 2008

IM3 Banting Setir


Kamis, 21 Februari 2008

Indosat IM3 Rp0,01/Detik
BISNIS
BANDAR LAMPUNG (Lampost):
PT Indosat Tbk., meluncurkan tarif baru IM3 Rp0,01 per detik. Dengan demikian, IM3 tidak hanya punya tarif SMS paling murah, tapi memiliki tarif percakapan telepon paling kompetitif ke seluruh pengguna seluler di Indonesia yang kini berjumlah lebih dari 110 juta pelanggan.

Program ini menambah keuntungan bagi pelanggan kartu IM3, yang selama ini dikenal sebagai kartu SMS Bangeetss dan memberikan manfaat maksimal untuk panggilan telepon (voice call). "Peluncuran ini menjadikan IM3 sebagai satu-satunya kartu yang memberikan tarif termurah untuk SMS sekaligus percakapan telepon. Selama ini banyak yang memegang dua kartu, satu untuk SMS murah dan satu lagi untuk menelepon murah. Kini semuanya ada hanya dalam satu kartu, yaitu IM3," kata Head of Indosat Lampung Branch, Nurkholis, Rabu (20-2).

Tarif IM3 Rp0,01 per detik berlaku setelah 90 detik atau setelah 1,5 menit percakapan. Sebelum 90 detik, tarif ke sesama operator Rp15 per detik, dan ke operator lain Rp25 per detik. Untuk ke sesama nomor Indosat tarif Rp0,01 berlaku sejak detik ke-90 hingga percakapan berakhir.

Sedangkan untuk panggilan ke operator lain, setelah 90 detik, yang berlaku adalah skema tarif sebelum 90 detik, yaitu Rp25/detik. Setelah 90 detik berikutnya, berlaku kembali tarif Rp0,01 per detik. Skema tarif ini berulang setiap 90 detik. Untuk dapat menikmati tarif supermurah ini, minimum pulsa yang dimiliki selama 30 detik atau Rp450 untuk ke sesama nomor Indosat dan Rp750 ke nomor operator lain. Sedangkan untuk lokal dan interlokal berlaku tarif flat, baik di area asal maupun di luar area asal.

Program IM3 lain masih tetap berlaku. Sebelumnya IM3 memiliki lima program yang difokuskan kepada SMS, yaitu Raja SMS (gratis 10 SMS tiap kirim 10 SMS), Super Voucher 200 SMS (voucher khusus SMS dengan tarif Rp40/SMS), Bonus SMS Isi Ulang (bonus sampai dengan 150 SMS setiap isi ulang), SMS 88 ke semua operator hanya Rp88/SMS khusus untuk luar Jawa), dan yang terbaru Ce eS a (gratis kirim SMS seharian ke dua nomor Indosat yang didaftarkan).n MIN/E-2



-------------------------------------------------------------
Copyright © 2004 Lampung Post. All rights reserved.
In associated with Media Indonesia Online.
Comments and suggestions please email webmaster@mediaindonesia.co.id

Rabu, 20 Februari 2008

Pemimpin yang paham Multikulturalisme Budaya


Indonesia dari segi geografis terlihat luas sekali, seperti sepenggal lagu " dari sabang sampai merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah indonesia". dengan kondisi seperti itu wajar ketika disebut multikultur karena berbagai macam kultur, suku, bahasa, adat-istiadat yang berbeda antara daerah yang satu dengan yang lainnya.

Multikulturisme di indonesia memang wacana yang sering dibicarakan banyak kalangan, dari politisi, ekonom, budayawan dll. Tapi intuk mewujudkan itu dalam kehidupan sahari-hari masih membutuhkan dari banyak pihak.

Kesatuan budaya yang selama ini di diagung-agungkan dan dijaga dengan sangat sentralistis oleh negara. Namun, begitu negara tidak kuat lagi melakukan kontrolnya, begitu sumber ekonomi negara tidak ada lagi yang bisa di bagikan, begitu alat represif negara tidak lagi selalu hadir menekan rakyat, etnisitas muncul sebagai identitas diri melekat dengan sebuah wilayah atau dalam istilahnya Cendikiawan muslim kita bapak Dr. Moeslim Abdurrahman, MA dikatakan sebagai Host Culture.

Secara politik, etnisitas menjadi persoalan serius di indonesia takkala sentralisasi ambruk, menjadi desentralisasi yang melahirkan batas-batas adminstrasi politik baru. Kemudian muncul kembali keinginan untuk mempunyai kedaulatan di daerahnya atau host culture. tidak heran kalau kemudian sering kali muncul rengekan yang mempertanyakan siapa yang menjadi tuan rumah disuatu wilayah. atau sering kali muncul pertanyaan bahwa kamilah yang seharusnya menjadi tuan rumah.

etnological nasionalisme

Hal seperti terjadi di Lampung dalam pesta demokrasi kali ini. Para calon gubernur beramai-ramai mencari pasangan dari salah satu etnis yang mayoritas. memang sulit ketika budaya harus dijadikan kendaraan politik. apa yang terjadi? Kita tunggu siapa yaang akan terpilih. ketika nanti muncul persoalan etnological nasionalisme dimana ada beberapa wilayah atau kawasan yang mayoritas atau minoritas salah satu etnis dengan kekayaan sumber alamnya, tetapi penduduknya masih miskin.

Pada saat itu kemudian muncul kesadaran-kesadaran etnis yang dikaitkan dengan kepemilikan wilayah dan mersa teraniaya oleh sistem pembagian ekonomi yang tidak adil. Ditambah lagi adanya pembagian wilayah politik yang tidak selalu sama dengan wilayah etnik, yang sering kali memunculkan persoalan karena sebelumnya sudah muncul kesadaran Host Culture. Belum lagi munculnya perasaan sentimen etnis sebagai "penguasa" suatu wilayah merasa dipinggirkan secara ekonomi, merasa mendapat posisi layak secara politis. Padahal, pemikiran semacam itu sebelumnya tidak pernah muncul. Mungkin dilihat dari sisi ini saja bisa dikatakan ada kemunduran dari pemahaman kebangsaan kita. Namun, perkembangan kesadaran semacam ini masih normal. Artinya, ketika tidak ada lagi yang bisa dipakai untuk memperjuangkan, orang akan kembali kepada sentimen etnisitas.

Rasa Keadilan

Dengan berbagai macam persoalan yang terjadi, dari pemerintah daerah pun sepertinya tidak terlalu banyak memeberikam penyelesaian pada tataran Budaya. Sekarang hanya membicarakan bagaimana menghidupkan kembali ekonomi, menata pertumbuhan industri dan Pariwisata, padahal yang harus di tata kembali adalah bagaimana menata kemajemukan masyarakat agar roda ekonomi dapat menjadi lebih baik lagi. saya pikir, rasa keadilan sosial, bagaimana pendistribusian ekonomi dan kesejahteraan dengan baik, merupakan sebagian dari jawaban yang bisa mengurangi perasaan masyarakat yang menjadi korban. sebab, perasaan seperti inilah yang pada akhirnya mendorong fragmatisme berbagai suku bangsa dan anak suku bangsa.

Distribusi ekonomi yang tidak merata, ketika bertemu dengan hilangnya rasa solidaritas sosial, maka orang akan kembali lagi ke uint awalnya, etnisitas. Apalagi, kebanggaan terhadap bangsa dan daerah sendiri tidak ada. semoga pemimpin Lampung kedepan mampu memahami dan mengerti akan kemajemukan kultur masyarakat. tabik.

Selasa, 19 Februari 2008

Tumbuhan mati 1 dan Manusia siap-siap Mati 1000


Judul ini Sekilas memang aneh.
tak ada kaitannya memang.
tapi dampak kerusakan tumbuhan terutama hutan sangat berpengaruh dengan kehidupan manusia.
dengan menggunakan studi analisis bahwa manusia bernafas dengan menghirup oksigen, oksigen berasal dari tumbuhan.
tumbuhan hilang, oksigen pun hilang.
bagi tumbuhan, oksigen tidak berpengaruh terhadap dirinya.
Sedangkan manusia butuh dengan oksigen.
semakin banyak hutan di tebang, berarti semakin banyak orang bakal menghilang.
Astagfirullah...
para mahluk pencabut nyawa hutan.
bertobatlah...Allah SWT sangat sayang kepada kita, kenapa kita tidak sayang pada diri sendiri....
mari bersama-sama melestarikan hutan kita...
jangan sakiti diri kita sendiri.